Senin, 01 Oktober 2012

Imunisasi cacar air


 

CACAR air dikenal sebagai varisela, yaitu virus yang menyebabkan demam tinggi, ruam merah, dan rasa gatal yang dapat muncul dari beberapa tempat hingga ratusan yang menutupi seluruh tubuh. Lantas, bagaimana mengatasinya?

Vaksin cacar air (varicella) dianjurkan untuk anak-anak 12 bulan atau lebih. Mereka yang lebih tua dan pernah menderita cacar air di masa lalu tidak perlu mendapatkan vaksin kembali, demikian seperti dilansir Sheknows.

Namun ada orang-orang tertentu yang tidak diperbolehkan untuk mendapat vaksin cacar air. Mereka adalah:
1.  Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah
2.  Wanita hamil atau mereka yang berusaha untuk hamil
3.  Orang yang memiliki riwayat reaksi allergik parah terhadap vaksin atau komponen  vaksin
4.  Anak di bawah usia 12 bulan

Virus cacar air, Varicella-zoster, punya gejala yang biasanya dimulai dengan demam tinggi diikuti dengan ruam merah, mulai dari beberapa hingga ratusan bintik menghiasi kulit dan terasa gatal. Beberapa titik mungkin menjadi besar, melepuh, dan berisi cairan. Bintik-bintik biasanya kering dalam waktu empat sampai lima hari dan proses penyembuhan secara keseluruhan bisa tujuh sampai 10 hari. Virus ini dapat menyebar melalui kontak fisik atau melalui udara melalui batuk atau bersin.

Vaksin bisa diberikan melalui jarum suntik yang dapat menyebabkan efek samping sementara. Kebanyakan orang merasa nyeri di daerah suntikan. Beberapa juga mungkin mengalami demam ringan yang dapat berlangsung selama beberapa hari dan beberapa mungkin mengalami sedikit ruam yang menyerupai cacar air dalam waktu satu atau dua minggu vaksinasi.

Penting bagi Anda untuk mendapatkan vaksin cacar. Bayi dan orang dengan sistem kekebalan sangat lemah dapat mengalami komplikasi serius jika mereka terkena penyakit, termasuk infeksi bakteri pada kulit, bekas luka, pneumonia dan ensefalitis (radang otak), dan cacar air juga dapat menyebabkan cacat lahir.

Dokter umumnya percaya bahwa Anda hanya akan terkena cacar air sekali dalam seumur hidup karena tubuh akan menciptakan kekebalan. Itu bisa saja terjadi, namun perlu diingat bahwa virus biasanya akan mati suri dan bisa hidup kembali saat imunitas tubuh Anda melemah dan bisa terkena cacar air ke sekian kalinya. 

Imunisasi Campak

Imunisasi campak, sebenarnya bayi sudah mendapatkan kekebalan campak dari ibunya. Namun seiring bertambahnya usia, antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi tambahan lewat pemberian vaksin campak. Apalagi penyakit campak mudah menular, dan mereka yang daya tahan tubuhnya lemah gampang sekali terserang penyakit yang disebabkan virus Morbili ini. Untungnya campak hanya diderita sekali seumur hidup. Jadi, sekali terkena campak, setelah itu biasanya tak akan terkena lagi.
Penularan campak terjadi lewat udara atau butiran halus air ludah (droplet) penderita yang terhirup melalui hidung atau mulut. Pada masa inkubasi yang berlangsung sekitar 10-12 hari, gejalanya sulit dideteksi. Setelah itu barulah muncul gejala flu (batuk, pilek, demam), mata kemerahabn dan berair, si kecilpun merasa silau saat melihat cahaya. Kemudian, disebelah dalam mulut muncul bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari. Beberapa anak juga mengalami diare. satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik, berkisar 38-40,5 derajat celcius.
Seiring dengan itu barulah muncul bercak-bercak merah yang merupakan ciri khas penyakit ini. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Awalnya haya muncul di beberapa bagian tubuh saja seperti kuping, leher, dada, muka, tangan dan kaki. Dalam waktu 1 minggu, bercak-bercak merah ini hanya di beberapa bagian tibih saja dan tidak banyak.
Jika bercak merah sudah keluar, umumnya demam akan turun dengan sendirinya. Bercak merah pun akan berubah menjadi kehitaman dan bersisik, disebut hiperpigmentasi. Pada akhirnya bercak akan mengelupas atau rontok atau sembuh dengan sendirinya. Umumnya dibutuhkan waktu hingga 2 minggu sampai anak sembuh benar dari sisa-sisa campak. Dalam kondisi ini tetaplah meminum obat yang sudah diberikan dokter. Jaga stamina dan konsumsi makanan bergizi. Pengobatannya bersifat simptomatis, yaitu mengobati berdasarkan gejala yang muncul. Hingga saat ini, belum ditemukan obat yang efektif mengatasi virus campak.
Jika tak ditangani dengan baik campak bisa sangat berbahaya. Bisa terjadi komplikasi, terutama pada campak yang berat. Ciri-ciri campak berat, selain bercaknya di sekujur tubuh, gejalanya tidak membaik setelah diobati 1-2 hari. Komplikasi yang terjadi biasanya berupa radang paru-paru dan radang otak. Komplikasi ini yang umumnya paing sering menimbulkan kematian pada anak.
Usia dan Jumlah Pemberian
Sebanyak 2 kali; 1 kali di usia 9 bulan, 1 kali di usia 6 tahun. Dianjurkan, pemberian campak ke-1 sesuai jadwal. Selain karena antibodi dari ibu sudah menurun di usia 9 bulan, penyakit campak umumnya menyerang anak usia balita. Jika sampai 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak, maka pada usia 12 bulan harus diimunisasi MMR (Measles Mump Rubella).
Efek Samping
Umumnya tidak ada. Pada beberapa anak, bisa menyebabkan demam dan diare, namun kasusnya sangat kecil. Biasanya demam berlangsung seminggu. Kadang juga terdapat efek kemerahan mirip campak selama 3 hari.
Baca juga:

Imunisasi BCG

Imunisasi BCG termasuk salah satu dari 5 imunisasi yang diwajibkan. Ketahanan terhadap penyakit TB (Tuberkulosis) berkaitan dengan keberadaan virus tubercel bacili yang hidup di dalam darah. Itulah mengapa, agar memiliki kekebalan aktif, dimasukkanlah jenis basil tak berbahaya ke dalam tubuh, alias vaksinasi BCG (Bacillus Calmette Guerin).
alat suntik imunisasi lengkapImunisasi BCG wajib diberikan, seperti diketahui, Indonesia termasuk negara endemis TB dan salah satu negara dengan penderita TB tertinggi di dunia. TB disebabkan kuman Mycrobacterium tuberculosis, dan mudah sekali menular melalui droplet, yaitu butiran air di udara yang terbawa keluar saat penderita batuk, bernapas ataupun bersin. Gejalanya antara lain: berat badan anak susah bertambah, sulitmakan, mudah sakit, batuk berulang, demam, berkeringat di malam hari, juga diare persisten. Masa inkubasi TB rata-rata berlangsung antara 8-12 minggu.
Untuk mendiagnosis anak terkena TB atau tidak, perlu dilakukan tes rontgen untuk mengetahui adanya vlek, tes Martoux untuk mendeteksi peningkatan kadar sel darah putih, dan tes darah untuk mengetahui ada-tidak gangguan laju endap darah. Bahkan, dokter pun perlu melakukan wawancara untuk mengetahui, apakah si kecil pernah atau tidak, berkontak dengan penderita TB.
Jika anak positif terkena TB, dokter akan memberikan obat antibiotik khusus TB yang harus diminum dalam jangka panjang, minimal 6 bulan. Lama pengobatan tak bisa diperpendek karena bakteri TB tergolong sulit mati dan sebagian ada yang “tidur”. Karenanya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Selain menhindarianak berkontak dengan penderita TB, juga meningkatkan daya tahan tubuhnya yang salah satunya melalui pemberian imunisasi BCG.
Jumlah Pemberian Imunisasi BCG
Cukup 1 kali saja, tak perlu diulang (booster). Sebab vaksin BCG berisi kuman hidup sehingga antibodi yang dihasilkannya tinggi terus. Berbeda dengan vaksin berisi kuman mati, sehingga memerlukan pengulangan.
Usia Pemberian Imunisasi BCG
Dibawah usia 2 bulan. Jika baru diberikan setelah usia 2 bulan, disarankan tes Mantoux (tuberkulin) dahulu untuk mengetahui apakah si bayi sudah kemasukan kuman Mycrobacterium tuberculosis atau belum. Vaksinasi dilakukan bila hasil tesnya negatif. Jika ada penderita TB yang tinggal serumah atau sering bertandang ke rumah, segera setelah lahir si kecil diimunisasikan BCG
Lokasi Penyuntikan
Lengan kanan atas, sesuai anjuran WHO. Meski ada juga petugas medis yang melakukan penyuntikan di paha.
Efek Samping
Umumnya tidak ada. Namun pada beberapa anak timbul pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak atau leher bagian bawah (atau selangkangan bila penyuntikan dilakukan di paha). Biasanya akan sembuh sendiri.
Tanda Keberhasilan
Muncul bisul kecil dan bernanah di daerah bekas suntikan setelah 4-6 minggu. Tidak menimbulkan nyeri dan tidak diiringi panas. Bisul akan sembuh sendiri dan meninggalkan luka parut.
Jika bisul tak muncul, jangan cemas. Bisa saja dikarenakan cara penyuntikan yang salah, mengingat cara penyuntikan perlu kehlian khusus karena vaksin harus masuk ke dalam kulit. Apalagi bila dilakukan di paha, proses menyuntiknya lebih sulit karena lapisan lemak di bawah kulit paha umumnya lebih tebal.
Jadi, medki bisul tak muncul, antibodi tetap terbentuk, hanya saja dalam kadar rendah. Imunisasi BCG pun tak perlu diulang, karena di daerah endemis TB, infeksi alamiah akan selalu ada. Dengan kata lain, anak akan mendapat vaksinasi alamiah.
Indikasi Kontra
Tak dapat diberikan pada anak berpenyakit TB atau menunjukkan Mantoux pos

Imunisasi DPT

Pengertian Imunisasi DPT

    Imunisasi DPT adalah upaya untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit Diferi, Pertusis, Tetanus dengan cara memasukkan kuman difteri, pertusis, tetanus yang telah dilemahkan dan dimatikan kedalam tubuh sehingga tubuh dapat menghasilkan imagezat anti yang pada saatnya nanti digunakan tubuh untuk melawan kuman atau bibit ketiga penyakit tersebut. DPT merupakan singkatan dari Difteri Pertusis Tetanus. Difteri : Radang tenggorokan yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian anak hanya dalam beberapa hari saja. Pertusis : Penyakit radang pernafasan (paru) yang disebut juga batuk rejan atau batuk 100 hari, karena lama sakitnya dapat mencapai 3 bulan lebih atau 100 hari. Gejala penyakit ini sangat khas, batuk yang bertahap, panjang dan lama disertai bunyi ‘whop’ dan diakhiri dengan muntah, mata dapat bengkak atau penderita dapat meninggal karena kesulitan bernafas. Tetanus : Penyakit kejang otot seluruh tubuh dengan mulut terkancing tidak bisa dibuka.
Manfaat dan Efek Samping Imunisasi DPT
    Salah satu upaya agar anak-anak jangan sampai menderita suatu penyakit adalah dengan jalan memberikan imunisasi. Dengan imunisasi ini tubuh akan membuat zat anti dalam jumlah banyak, sehingga anak tersebut kebal terhadap penyakit. Jadi tujuan imunisasi DPT adalah membuat anak kebal terhadap penyakit Difteri, Pertusis, Tetanus.
    Selain itu manfaat pemberian imunisasi DPT adalah :
  • Untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus.
  • Apabila terjadi penyakit tersebut, akan jauh lebih ringan dibanding terkena penyakit secara alami. Secara alamiah sampai batas tertentu tubuh juga memiliki cara membuat kekebalan tubuh sendiri dengan masuknya kuman-kuman kedalam tubuh. Namun bila jumlah yang masuk cukup banyak dan ganas, bayi akan sakit. Dengan semakin berkembangnya teknologi dunia kedokteran, sakit berat masih bisa ditanggulangi dengan obat-obatan. Namun bagaimanapun juga pencegahan adalah jauh lebih baik dari pada pengobatan.DPT sering menyebakan efek samping yang ringan, seperti demam ringan atau nyeri di tempat penyuntikan selama beberapa hari. Efek samping tersebut terjadi karena adanya komponen pertusis di dalam vaksin. Pada kurang dari 1% penyuntikan, DPT menyebabkan komplikasi berikut:
  • Demam tinggi (lebih dari 40,5° Celsius)
  • Kejang
  • Kejang demam (resiko lebih tinggi pada anak yang sebelumnya pernah mengalami kejang atau terdapat riwayat kejang dalam keluarganya)
  • Syok (kebiruan, pucat, lemah, tidak memberikan respon). Jika anak sedang menderita sakit yang lebih serius dari pada flu ringan, imunisasi DPT bisa ditunda sampai anak sehat. Jika anak pernah mengalami kejang, penyakit otak atau perkembangannya abnormal, penyuntikan DPT sering ditunda sampai kondisinya membaik atau kejangnya bisa dikendalikan.
    1-2 hari setelah mendapatkan suntikan DPT, mungkin akan terjadi demam ringan, nyeri, kemerahan atau pembengkakan di tempat penyuntikan. Untuk mengatasi nyeri dan menurunkan demam, bisa diberikan asetaminofen (atau ibuprofen). Untuk mengurangi nyeri di tempat penyuntikan juga bisa dilakukan kompres hangat atau lebih sering menggerak-gerakkan lengan maupun tungkai yang bersangkutan.
    Jadwal Pemberian Imunisasi DPT
    Imunisasi dasar DPT diberikan tiga kali, karena saat imunisasi pertama belum memiliki kadar antibody protektif terhadap difteri dan akan memiliki kadar antibody setelah mendapatkan imunisasi 3 kali. Dimulai sejak bayi berumur dua bulan dengan selang waktu antara dua penyuntikan minimal 4 minggu.
    Imunisasi DPT tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah dan anak yang menderita penyakit kejang demam kompleks. Jiga tidak boleh diberikan pada anak dengan batuk yang diduga mungkin sedang menderita batuk rejan. Bila pada suntikan DPT pertama terjadi reaksi yang berat maka sebaiknya suntikan berikut jangan diberikan DPT lagi melainkan DT saja (tanpa P). (Prof. DR.A.H. Markum, 2000)
    DPT biasanya tidak diberikan pada anak usia kurang dari 6 minggu, disebabkan respon terhadap pertusis dianggap tidak optimal, sedangkan respon terhadap tetanus dan difteri adalah cukup baik tanpa memperdulikan adanya antibody maternal
    Jenis-jenis Penyakit yang Dapat dicegah dengan Imunisasi DPT
Ø Difteri
Penyakit difteria disebabkan oleh sejenis bacteria yang disebut Corynebacterium diphtheriae. Sifatnya sangat ganas dan mudah menular. Seoerang anak akan terjangkit difteria bila ia berhubungan langsung dengan anak lain sebagai penderita difteri atau sebagai pembawa kuman (karier) : yaitu dengan terhisapnya percikan udara yang mengandung kuman. Bila anak nyata menderita difteri dapat dengan mudah dipisahkan. Tetapi seorang karier akan tetap berkeliaran dan bermain dengan temannya karena memang ia sendiri tidak sakit. Jadi, ditinjau dari segi penularannya, anak karier ini merupakan sumber penularan penyakit yang sulit diberantas. Dalam hal inilah perlunya dilakukan imunisasi. Dengan imunisasi anak akan terhindar, sedangkan temannya yang belum pernah mendapat imunisasi akan tertular penyakit difteri yang diperoleh dari temannya sendiri yang menjadi karier.
Anak yang terjangkit difteri akan menderita demam tinggi. Selain pada tonsil (amandel) atau tenggorok terlihat selaput putih kotor. Dengan cepat selaput ini meluas ke bagian tenggorok sebelah dalam dan menutupi jalan nafas, sehingga anak seolah-olah tercekik dan sukar bernafas. Kegawatan lain pada difteri adalah adanya racun yang dihasilkan oleh kuman difteri. Racun ini dapat menyerang otot jantung, ginjal dan beberapa serabut saraf. Kematian akibat difteri sangat tinggi biasanya disebabkan anak tercekik oleh selaput putih pada tenggorok atau karena jantung akibat racun difteria yang merusak otot jantung.
Ø Pertusis
Pertusis atau batuk rejan, atau yang lebih dikenal dengan batuk seratus hari, disebabkan oleh kuman Bordetella Pertusis. Penyakit ini cukup parah bila diderita anak balita, bahkan dapat berakibat kematian pada anak usia kurang dari 1 tahun. Gejalanya sangat khas, yaitu anak tiba-tiba batuk keras secara terus menerus, sukar berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan, keluar air mata dan kadang-kadang sampai muntah. Karena batuk yang sangat keras, mungkin akan disertai dengan keluarnya sedikit darah. Batuk akan berhenti setelah ada suara melengking pada waktu menarik nafas, kemudian akan tampak letih dengan wajah yang lesu. Batuk semacam ini terutama terjadi pada malam hari.
Bila penyakit ini diderita oleh seorang bayi, terutama yang  baru berumur beberapa bulan, akan merupakan keadaan yang sangat berat dan dapat berakhir dengan kematian akibat suatu komplikasi.
Ø Tetanus
Penyakit Tetanus masih terdapat diseluruh dunia, karena kemungkinan anak untuk mendapat luka tetap ada. Misalnya terjatuh, luka tusuk, luka bakar, koreng, gigitan binatang, gigi bolong, radang telinga. Luka tersebut merupakan pintu masuk kuman tetanus yang dikenal sebagai Clostridium tetani. Kuman ini akan berkembang biak dan membentuk racun yang berbahaya. Racun inilah yang merusak sel susunan saraf pusat tulang belakang yang menjadi dasar timbulnya gejala penyakit. Gejala tetanus yang khas adalah kejang, dan kaku secara menyeluruh, otot dinding perut yang teraba keras dan tegang seperti papan, mulut kaku dan sukar dibuka.

Kesimpulan
Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang.
Vaksin DPT adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada anak yang berumur kurang dari 7 tahun. Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk suntikan, yang disuntikkan pada otot lengan atau paha.
Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT, bukan DPT.

Imunisasi Hepatitis


hepatitis aHepatitis virus adalah radang pada liver atau hati yang disebabkan oleh virus. Ada 4 macam jenis virus hepatitis yaitu virus A yang menyebabkan penyakit hepatitis a, Virus B yang menyebabkan hepatitis b, virus non A dan non B yang biasa dijumpai pada pasien pascatranfusi seperti virus C dan D. Penyakit hepatitis a dikenal juga dengan hepatitis infeksioa, penyakit ini terdapat di seluruh dunia. Cara infeksinya melalui makanan yang sudah tercemar virus hepatitis a, misalnya lalat yang hinggap di kotoran atau urin kemudian hinggap di makanan.
Feses dan urin merupakan sumber infeksi, sedangkan di dalam tubuh, virus dapat ditemukan pada darah, empedu, dan sekret nasofaring. Infeksi hepatitis a menular dari satu orang ke orang lain melalui makanan dan minuman. Penyakit ini biasanya banyak dijumpai di daerah-daerah di mana sanitasi dan higiene kurang baik. Dan yang paling rentan terkena penyakit ini adalah bayi dan anak-anak, karena daya tahan tubuh mereka masih lemah apalagi jika kebutuhan gizinya tidak terpenuhi. Hal ini diperparah dengan pengetahuan yang kurang dari orang tua tentang kesehatan bayi dan anak.
Gejala awal dari penyakit hepatitis a ini adalah demam, nyeri kepala, lemah, anoreksia, mual, muntah, kadang-kadang disertai sembelit atau diare, nyeri pada perut kanan atas atau saluran nafas atas, warna feses dan urin menjadi lebih gelap. Pada stadium lanjut, ikterus atau kuning mulai tampak pada sklera kemudian menyebar ke seluruh tubuh tergantung dari imunitas anak dan virulensi virus. Hati tampak membesar tetapi suhu tubuh mulai menurun dan keluhan lain berkurang. Biasanya kesehatan bayi mulai membaik setelah satu bulan dan sembuh total di akhir bulan kedua, walau ada beberapa bayi yang masih mengalami kelainan fungsi hati pada waktu tersebut.
Untuk mengurangi mewabahnya penyakit ini terutama pada bayi dan anak-anak maka pemerintah menggalakkan imunisasi bayi untuk kesehatan bayi. Imunisasi berasal dari kata imun yang artinya adalah resisten atau kebal. Sedangkan secara medis arti imunisasi adalah memasukkan kuman tertentu yang telah dilemahkan ke dalam tubuh seseorang supaya tubuh orang tersebut membentuk antibodi yang dapat melawan jika suatu saat kuman tersebut menginfeksinya. Jadi imunisasi hepatitis a ini berarti memasukkan virus hepatitis a yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh bayi supaya tubuh bayi membentuk antibodi. Dengan demikian diharapkan jika kelak anak ini terinfeksi virus hepatitis a, tubuhnya yang telah memiliki antibodi hepatitis a dapat melawan virus tersebut. Berdasarkan jadwal imunisasi bayi yang dibuat oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), imunisasi hepatitis a diberikan ketika anak telah berusia lebih dari 2 tahun dan dilakukan 2 kali dengan interval 6-12 bulan. Selain imunisasi, salah satu hal penting yang harus dilakukan oleh masyarakat supaya tidak terjangkit penyakit ini adalah menjaga higiene dan sanitasi makanan, badan, pakaian, dan lingkungan.
Hepatitis virus adalah radang pada liver atau hati yang disebabkan oleh virus. Ada 4 macam jenis virus hepatitis yaitu virus A yang menyebabkan penyakit hepatitis a, Virus B yang menyebabkan hepatitis b, virus non A dan non B yang biasa dijumpai pada pasien pascatranfusi seperti virus C dan D. Penyakit hepatitis a dikenal juga dengan hepatitis infeksioa, penyakit ini terdapat di seluruh dunia. Cara infeksinya melalui makanan yang sudah tercemar virus hepatitis a, misalnya lalat yang hinggap di kotoran atau urin kemudian hinggap di makanan.
Feses dan urin merupakan sumber infeksi, sedangkan di dalam tubuh, virus dapat ditemukan pada darah, empedu, dan sekret nasofaring. Infeksi hepatitis a menular dari satu orang ke orang lain melalui makanan dan minuman. Penyakit ini biasanya banyak dijumpai di daerah-daerah di mana sanitasi dan higiene kurang baik. Dan yang paling rentan terkena penyakit ini adalah bayi dan anak-anak, karena daya tahan tubuh mereka masih lemah apalagi jika kebutuhan gizinya tidak terpenuhi. Hal ini diperparah dengan pengetahuan yang kurang dari orang tua tentang kesehatan bayi dan anak.
Gejala awal dari penyakit hepatitis a ini adalah demam, nyeri kepala, lemah, anoreksia, mual, muntah, kadang-kadang disertai sembelit atau diare, nyeri pada perut kanan atas atau saluran nafas atas, warna feses dan urin menjadi lebih gelap. Pada stadium lanjut, ikterus atau kuning mulai tampak pada sklera kemudian menyebar ke seluruh tubuh tergantung dari imunitas anak dan virulensi virus. Hati tampak membesar tetapi suhu tubuh mulai menurun dan keluhan lain berkurang. Biasanya kesehatan bayi mulai membaik setelah satu bulan dan sembuh total di akhir bulan kedua, walau ada beberapa bayi yang masih mengalami kelainan fungsi hati pada waktu tersebut.
Untuk mengurangi mewabahnya penyakit ini terutama pada bayi dan anak-anak maka pemerintah menggalakkan imunisasi bayi untuk kesehatan bayi. Imunisasi berasal dari kata imun yang artinya adalah resisten atau kebal. Sedangkan secara medis arti imunisasi adalah memasukkan kuman tertentu yang telah dilemahkan ke dalam tubuh seseorang supaya tubuh orang tersebut membentuk antibodi yang dapat melawan jika suatu saat kuman tersebut menginfeksinya. Jadi imunisasi hepatitis a ini berarti memasukkan virus hepatitis a yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh bayi supaya tubuh bayi membentuk antibodi. Dengan demikian diharapkan jika kelak anak ini terinfeksi virus hepatitis a, tubuhnya yang telah memiliki antibodi hepatitis a dapat melawan virus tersebut. Berdasarkan jadwal imunisasi bayi yang dibuat oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), imunisasi hepatitis a diberikan ketika anak telah berusia lebih dari 2 tahun dan dilakukan 2 kali dengan interval 6-12 bulan. Selain imunisasi, salah satu hal penting yang harus dilakukan oleh masyarakat supaya tidak terjangkit penyakit ini adalah menjaga higiene dan sanitasi makanan, badan, pakaian, dan lingkungan.